Resky, Hijabers Surabaya Jadi Juara Sunsilk Hijab Hunt 2019



Resky, Hijabers Surabaya Jadi Juara Sunsilk Hijab Hunt 2019

Resky Amalia Ningsih dari Surabaya juara Sunsilk Hijab hunt 2019. Puncak acara Grand Final Sunsilk Hijab Hunt 2019 telah tiba. Setelah memilih tiga besar, kini saatnya para juri memutuskan siapa yang berhak jadi Juara Sunsilk Hijab Hunt 2019.

Juara pertama diraih oleh Resky Amalia Ningsih dari Surabaya, selanjutnya juara kedua diraih oleh Delvi Afriwanda dari Padang. Juara ketiga diraih oleh Syifa Audria dari Yogyakarta.

Resky memukau para juri dengan suara merdunya saat menyanyikan lagu medley "On My Way" dan "Solo". Sempat tak didukung orangtua, ia berhasil menduduki juara pertama Sunsilk Hijab Hunt 2019.

Juara pertama mendapatkan hadiah umrah dari Visitour dan uang tunai Rp 100 juta. Juara kedua mendapatkan hadiah umrah dari Visitour dan uang tunai Rp 50 juta. Sementara juara ketiga mendapatkan hadiah umrah dari Visitour dan uang tunai Rp 30 juta. Ketiganya juga mendapatkan smartphone dari OPPO.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan turut hadir dan memberikan hadiah kepada para juara. Hadir pula Menteri Perhubungan Budi Karya dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Hidup Hijabers Surabaya !!


5 Motif Kerudung Terbaru Ria Miranda yang Hits di Tahun 2019



5 Motif Kerudung Terbaru Ria Miranda yang Hits di Tahun 2019

Fashion designer Ria Miranda memang sudah tidak di ragukan lagi dalam dunia fashion hijab. Karya-karyanya selalu di tunggu-tunggu para hijabers Indonesia. Baru kemarin tanggal 28 Januari 2019 Ria Miranda meluncurkan karya terbarunya Jarik. Jarik diambil dari jenis kain jawa dengan tema cinta orang tua dan anak. Dalam karyanya Ria Miranda suka mengangkat budaya Indonesia. Kerudung terbarunya yang memiliki motif khas budaya Indonesia ini dipercaya akan menjadi trend di tahun 2019, karena di hari pertama peluncurannya sudah habis dalam hitungan jam. Berikut beberapa kerudung karya Ria Miranda:

Niti scarf adalah salah satu karya Ria Miranda dari koleksi Jarik. Kerudung terbaru 2019 dari Ria Miranda ini bermotif dedaunan dengan warna olive khas vintage Indonesia. Niti scarf dibuat dari bahan voal yang menjadi bahan favorite para hijaber dari tahun kemarin. Bahannya yang lembut dan tidak menerawang memang nyaman digunakan.

Ria Miranda juga memberikan tips pemakaian niti scarf dengan memadukannya dengan kemeja atau blouse berwarna senada. Kamu bisa menggunakanya untuk ke kantor, ke kampus ataupun hangout dengan teman. Kamu bisa mendapatkan Niti Scarf di Riamiranda Store, Website, ataupun Aplikasi Riamiranda dengan harga Rp.325.000

Babad scarf memiliki 2 pilihan warna yaitu coffee dan burgundy. Berbeda dengan niti scarf babad scarf dibuat dengan bahan ceruti. Babad adalah suatu karya sejarah kuno yang biasanya merupakan cerita, legenda ataupun mitos yang mengajarkan kebaikan. Babad scarf memiliki motif dengan tulisan Jawa.

Tips dari Ria Miranda adalahm memadukan babad scarf dengan kemeja polos berwarna senada. Kamu juga bisa memadukan Babad scarf dengan Dreswara Top dari koleksi Riamiranda Aksara.

Sandu scarf berukuran 120X120 cm dengan bahan crepe viscose memiliki motif cantik khas kain subahnale. Sandu scraf terinspirasi dari motif kain subahnale dari Lombok. Sandu scarf memiliki dua pilihan warna, yaitu mahogany rose dan camel. Tips dari Ria Miranda padukan sandu scarf dengan atasan berwarna coklat. Kamu juga bisa menggunakan kalaka top dari koleksi Ria Miranda untuk melengkapi tampilan kamu.

Sama dengan sandu scarf, kerudung segi empat berukuran 120 X 120 cm dengan bahan crepe viscose ini memiliki motif cantik khas kain subahnale. Kamu juga dapat memilih dua warna dari motip ini yaitu navy dan silver green. Kamu bisa memadukan namara scarf dengan atasan yang berwarna navy, abu, cokelat ataupun untuk membuat tampilan motif kerudung terlihat jelas gunakan kemeja putih dengan bawahan berwarna navy.

Ria Miranda juga mengelurkan basic scarf dengan beberapa pilihan warna yang terinspirasi dari budaya Indonesia yaitu mendung scarf, bethari scarf, truntum scarf, ambin scarf, banyu scarf, dan kembang scarf. Kerudung ini berbahan voal seperti niti scarf. Dengan dasar warna polos dan motif bunga kecil di ujung kerudung membuat tampilan kerudung ini tambah menarik. Karena memiliki tampilan yang polos kamu lebih mudah untuk memadu padankan dengan outfit favorite kamu. Cool. Mantap!!



Jenahara Membidik Segmen Kelas Menengah Atas



Jenahara Membidik Segmen Kelas Menengah Atas

Desainer Jenahara Nasution mengeluarkan busana muslim siap pakai dengan brand Jenahara. Meski rancangannya memang untuk pakaian muslim, yang bisa dipadupadankan dengan celana dan jilbab, toh banyak juga perempuan tidak berjilbab yang membeli produk Jenahara. Bahkan perempuan nonmuslim pun ada yang menjadi pelanggan Jenahara.

Apa pertimbangannya membuka bisnis?

Karena Indonesia memiliki populasi muslin terbesar di dunia, berarti market-nya memang ada. Yang kedua, penduduk Indonesia sekarang yang menengah ke atas meningkat. Dari kedua pertimbangan itu, membuat saya harus dengan segera mengukuhkan brand saya. Seain itu, Indonesia juga memiliki pasar yang unik, kalau kita ingin jualan di segmen yang mana, market-nya pasti ada. Dari menengah ke bawah, menengah ke atas, dan sampai yang atas pun ada. Pasar kita kita luas sekali. Selain itu, nanti 2020 pemerintah Indonesia membuat wacana ingin menjadikan Indonesia, kiblatnya fesyen muslim di dunia. Ketika hal ini sudah diseriuskan, maka orang-orang akan mulai terbukakan matanya bahwa ini adalah bisnis yang bagus.

Jadi bisnis ini memiliki potensi?

Potensinya luar biasa. 90% dari penduduk Indonesia adalah Islam, dan Islam di Indonesia termasuk Islamnya yang 'easy' bukan Islam yang konvensional seperti negara-negara Islam yang lain, yang memiliki aturan tersendiri dalam berpakaian, terutama muslimah. Di Indonesia lebih bebas, lebih mudah dalam mengadoptasi gaya dari luar, lebih terbuka. Yang kedua, ini sudah menjadi tradisi wanita Indonesia akan menggunakan jilbab ketika sudah memiliki anak. Jadi wanita Indonesia tahu, bahwa suatu saat mereka harus menggunakan jilbab.

Segmen busana muslin Jenahara?

Segmen saya menengah ke atas, karena kebanyakan baju muslim di Indonesia ditujukan untuk menengah ke bawah. Kebanyakan orang akan mencari baju muslim ke Tanah Abang, jadi tidak pernah baju muslim ini digarap lebih serius, dalam artian pakaian muslim Indonesia itu desainnya ribet, maaf ya mbak, kok norak.

Saya berhijab sejak umur 13 tahun, jadi saya tahu bahwa tidak bisa menerima gaya yang seperti itu. Jadi inginnya, seperti saya, yang dapat digunakan ke mana saja, lebih simpel, lebih terlihat elegan, lebih terlihat modern, mengapa tidak dibuat seperti itu. Kalau aku lihat dan pelajari, belum ada yang seperti itu, membuat baju muslim yang lebih minimalis. Kalau dilihat sekarang juga, sudah banyak wanita yang memiliki karier yang baik dan memiliki niatan untuk memakai hijab, mengapa tidak disesuaikan. Karena orang zaman sekarang itu inginnya yang cepat, ringkas, yang modern yang disesuaikan dengan zamannya.


Kelebihan busana muslin Jenahara?

Lebih simpel, lebih elegan, lebih modern, dan lebih minimalis. Baju saya juga bisa di-mix and match. Karena biasanya orang jualan baju muslim, mereka menjualnya satu paket, jadi ada atasan, bawahan, kerudung. Kalau saya tidak begitu, saya membebaskan customer saya untuk memiliki sesuai mereka, jadi itu menjadi ciri khasnya Jenahara. Bahkan orang yang tidak berhijab pun bisa menggunakan baju saya, karena modelnya friendly.

Karena banyak teman saya yang cerita kalau mereka ingin berhijab, tetapi bingung mau dimulai darimana, dari situ saya mulai berpikiran untuk membuat baju muslim yang bisa dipakai juga untuk yang tidak berhijab. Intinya, ketika mereka sudah mantap ingin berjilbab, mereka tinggal pakai jilbabnya saja. Jadi modelnya friendly untuk orang-orang yang tidak berhijab, karena kebanyakan baju muslim itu modelnya lurus-lurus aja, sedangkan yang tidak berhijab ingin ada modelnya. Jadi, bagaimana baju muslim ini bisa digunakan untuk orang yang berhijab dan tidak berhijab, tapi sesuai syariat.

Butik saya sekarang ada di mana-mana, yang di Kemang, itu bukan tempat orang berjualan baju muslim, dan di situ kebanyakan customer saya itu orang yang bukan pakai jilbab. Beberapa orang yang customer baru, mereka kaget kalau ternyata itu baju muslim. Karena memang dari awal saya membuat baju, konsepnya jelas, sampai ke konsep butiknya jelas, bahkan butik saya itu tidak terlihat seperti butik baju muslim, karena saya tahu, kalau orang yang tidak menggunakan jilbab dan masuk, mereka akan tertintimidasi karena itu baju muslim, malu jika masuk dan tidak menggunakan jilbab.

Pasar orang berjilbab ini besar sekali, dan saya yakin saya bisa memperoleh pasar hijab ini. Dan untuk orang-orang yang tidak berhijab, pasti mereka juga ingin pakai, nah itu yang aku coba mendekati mereka. Dan alhamdulillah, setelah mereka beberapa kali datang ke butik saya dan suka, akhirnya mereka memakai jilbab. Jadi, cara syiar yang lebih menyenangkan daripada mengajak untuk ayo memakai hijab. Jadi cara yang lebih fleksibel dan kaku, karena saya juga bukan merupakan orang yang kaku..

Saya suka bermain dengan tema, karena menurut saya justru di situ letak lebih menariknya sebuah baju, ketika koleksi ini berbeda dengan koleksi sebelumnya. Saya pernah membuat desain tema pelaut. Pelaut ini lebih palyfull dari warnanya, model seorang pelaut. Setelah pelaut saya membuat tema skyscraper, yang lebih ke wanita-wanita pekerja, baju yang lebih minimalis, yang bisa digunakan untuk ke kantor dan ke pesta, jadi lebih formal.

Jadi koleksinya bertema?

Iya ditemakan, seperti sekarang temanya Foresta Selvagia dan konsepnya lebih arahnya, warnanya lebih ke alam, lebih soft, warna nude. Konsepnya kembali ke hutan. Iya, saya orang sukanya bereksperimen, berkolaborasi dengan isu yang bisa aku jadikan koleksi.

Kalau saya lebih ke apa yang ingin saya sampaikan. Karena setiap desainer mempunyai pesan yang ingin disampaikan melalui bajunya. Misi saya sesungguhnya adalah orang muslim yang memakai baju saya terlihat lebih smart dalam berpenampilan, keren, simpel, dan tidak kaku. Karena orang menilai kita pada pertama kali melalui penampilan. Lebih pintar dalam memadupadakan warna, pakaian dari atas sampai bawah. Walau semuanya akan kembali ke customer sendiri mix and match-nya akan seprti apa, karena saya membuat atasan sendiri, bawahan sendiri, dan kerudung sendiri. Karena sekarang sudah banyak yang menjual mengikuti cara saya, karena dulunya mereka menjual paketan . Sekarang orang mulai meniru cara ini. Secara tidak langsung, ini membuka peluang untuk orang muslim yang dulunya tidak punya banyak pilihan dalam berpakaian.

Pembeda Jenahara dengan yang lain?

Kalau kita memang di servis, dari dulu quality control-nya nomor satu. Dari bahan sampai pengerjaan itu nomor satu. Kalau ada customer yang tidak puas, mereka bisa mengembalikan, jadi ada garansi buat mereka dari koleksi saya. Jadi, nilai dari koleksi aku yang bisa keep trust mereka ke koleksi saya. Jadi, kalau saya membuat event, saya undang mereka, jadi bukan berarti saya mau semua orang memakai koleksi saya, tetapi memang benar-benar orang mengenal betul siapa Jenahara.

Orang-orang yang merasa Jenahara ini cocok, bukan orang-orang yang sekali datang dan tidak datang lagi. Orang yang datang ke butik, orang yang sering beli dan saya kenal mereka. Kalau desainer lagi mereka segmennya beragam, kalau saya hanya menyasar satu segmen, jadi lebih fokus. Kalau menengah ke atas melihat bagaimana kualitasnya, jadi mereka akan bangun kepercayaan terhadap brand, jadi kalau brand itu mengeluarkan koleksi mereka percaya kalau akan terjamin, saya mengarah ke sana.

Karena saya melihat pelaku muslim belum serius menggarap pasar itu. Jenahara itu kan ada dua, Jenahara dan Jenahara Black Label (JBL). Jenahara itu lebih ke banyak, ready to wear-nya saya. Kalau JBL lebih eksklusif, dari kualitas, pemilihan bahan, detail, desain. Ini juga datang dari customer saya yang cerita kalau mengalami kesulitan untuk mencari baju muslim yang bagus dan gaya seperti sekarang. Mereka akhirnya datang ke desainer, yang menunjukkan model dan minta dibuatkan panjang, padahal itu bukan desainer muslim.

Jenahara dan JBL kisaran harganya berapa mbak?

Kalau Jenahara kisaran Rp300ribu- 1,5 juta. Kalau JBL itu di atas Rp2-10 juta. JBL ini konsepnya lebih high end, dan saya menbuat JBL ini look book-nya ada dua, ada yang menggunakan jilbab ada yang tidak, jadi setiap itu tahu perspektifnya seperti apa. Meskipun ini tetap brand muslim. Kalau yang tidak berjilbab itu merupakan strategi saya untuk keluar.

Jadi yang dipasarkan ke luar JBL?

Iya, ceritanya ketika saya mencoba sekitar satu bulan yang lalu, saya jual dan responsnya bagus, bahkan yang banyak membeli kebanyakan orang Chinesse dan tidak berhijab. Itu bukti bahwa baju saya lebih fleksibel, jadi bisa digunakan oleh orang tidak berhijab juga, tapi orang yang berhijab juga banyak yang membeli.

Sebenarnya orang-orang tahu kalau Jenahara itu brand muslim, justru orang-orang yang tidak memakai hijab, yang kaget kalau ini ternyata baju muslim. Jadi, teknik yang saya gunakan adalah, satu menggunakan jilbab satu tidak. Tujuan saya supaya orang yang menggunakan jilbab ini memiliki perspektif yang berbeda tentang baju saya. Jadi orang tidak akan enggan untuk memakai, hanya karena ini baju muslim.

Apakah yang JBL ada di butik?

Sebenarnya ini belum saya jual karena pasarnya memang untuk keluar. Saya punya agen di Milan yang pasarnya untuk ke Eropa dan Uni Emirat, jadi memang saya bedakan. Apalagi untuk orang Arab, apalagi orang Arab yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu, sudah mulai memlih dalam berbusana dalam bergaya. Dari situ karena pasarnya ada dan oke jadi saya coba.

Target ekspornya berapa?

Karena ini butik, jadi saya belum tahu akan booming atau tidak, tapi karena target saya ini akan dari butik ke butik dan ini bajunya mahal, jadi belum bisa membuat sampai sebesar Jenahara produksi. Masih mencoba ngetes pasar. Karena menurut beberap butik di sana, mereka juga memiliki banyak customer muslim, tapi memang tidak berhijab, tetapi mereka memang mencari baju yang memang panjang-panjang. Kalau di Indonesia saya sudah ngetes pasar waktu Lebaran dan ternyata pasarnya oke, dari situ saya juga berpikir sayang kalau JBL hanya di jual di luar, mengapa tidak di Indonesia juga. Jadi saya masih ngetes pasar untuk JBL karena saya harus bersaing dengan desainer yang bukan baju muslim, jadi masih mencari tahu penilaian pasar di sana tentang baju muslim.

Jenahara di ekspor?

Kalau Jenahara kita memiliki stockist di luar, tapi belum sampai ekspor. Stockist kita ada di Singapura, Malaysia, Brunei. Kalau ekspor itu kesannya menurut saya harus jumlah besar, karena menurut saya ini masih bisnis rumahan dan masih baby, masih tiga tahun. Dan sebenarnya sudah ada beberapa ritel fesyen internasional yang mengajak saya kerja sama, tapi saya belum bisa menyebutkan ritel fesyen mana. Paling tidak ini merupakan kabar baik untuk saya, bahwa mereka sudah menyadari tentang Jenahara.

Omsetnya berapa?

Omsetnya dari 8 butik yang saya punya sekitar ya a hundred dalam sebulan, lumayan, tapi saya belum bisa ini disebut besar, karena saya juga masih harus membangun brand lain yaitu JBL yang tidak saya rencanakan sebelumnya, tapi tetap satu hal yang saya impikan.

Meningkat jauh sekali dari tahun pertama bisa 2,5 kali lipat sampai sekarang. Tahun kedua saya ada 4 butik dan tahun ini bertambah menjadi 8 butik.

Target untuk tahun depan?

Target saya inginnya Jenahara jadi brand ritel fesyen seperti Zara, Topshop. Saya melihat brand luar bisa bagus di Indonesia, mengapa brand Indonesia tidak bisa. Cuma mereka memang memiliki standar kualitas yang sudah baik. Jadi, daripada membuat butik dan butik lagi, sekalian saja ini menjadi ritel fesyen. Mungkin tidak tahun depan, mungkin 10 tahun kemudian atau lebih cepat lebih baik. Cool. Mantap.



Cut Meyriska Bisnis Fashion Muslim Setelah Berhijab



Cut Meyriska Bisnis Fashion Muslim Setelah Berhijab


Dream - Belum lama berhijab, Cut Myeriska semakin serius mendalami fashion Muslim. Kali ini ia meluncurkan koleksi modest wear bergaya elegan. Ia menciptakan modest wear elegan sesuai karakternya.
Menggandeng brand Omara, dara keturunan Aceh itu mengeluarkan busana Muslim untuk menyambut Ramadan dan Idul Fitri. Koleksi dikemas secara elegan dan simpel yang menggambarkan kepribadian Cut Meyriska.
Dibuat secara eksklusif untuk wanita Muslim Indonesia, aktris 25 tahun itu memberi sentuhan warna-warni pastel floral dengan mengikuti tren terkini.

" Karena buat bulan Ramadan, jadi warna-warnya tuh kalem karena aku sukanya juga pakai warna-warna putih, hijau kayak warna-warna ketupat," ujar Cut Meyriska.

Bertajuk 'SANUBARI' yang berarti 'Jantung Hati', Cut Meyrsika ingin mengajak para Muslimah untuk mendengarkan kata hatinya agar kembali ke jalan Allah.
Detail minimalis seperti tunik asimetris, hijab motif floral, hijab dengan teknik laser cut dan aksen tassel dapat mempercantik Sahabat Dream dalam melaksanakan kewajiban menutup aurat. Mantap!!


Kiat Bisnis Hijab Dian Pelangi



Kiat Bisnis Hijab Dian Pelangi

Muda dan berprestasi, begitu kira-kira gambaran wanita yang selalu lekat dengan busana muslim ini. Dian pelangi telah menjadi satu dari sedikit wanita Indonesia yang sukses di usia yang masih sangat belia.

Wanita kelahiran Padang tahun 1991 ini bahkan telah bisa mengembangkan sayap bisnisnya hingga melanglangbuana ke berbagai belahan dunia. Bukan hanya di wilayah Asia saja, namun Dian Pelangi bahkan merambah pasar Eropa dan juga Amerika. Tentu ini sebuah pencapaian yang luar biasa, mengingat usianya saat itu bahkan masih berada di awal 20-an.

Kerja keras dan juga berbagai upaya yang dilakoninya untuk mencapai titik kesuksesan tentu bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Dian Pelangi memulai sebuah bisnis yang pada awalnya tidak terlihat menjanjikan, mengingat pasar busana muslim di Indonesia masih berkutat pada model yang itu-itu saja.

Inilah tantangan dan juga motivasi tersendiri bagi Dian, dimana ia berupaya keras untuk membuat busana yang lebih berjiwa muda, namun masih tetap mengikuti syariat Islam yang seharusnya. Dian membuat berbagai busana muslim yang tampak lebih modern, dengan warna-warna yang lebih fresh dan terlihat muda.

Hal inilah yang menjadi ciri khas yang coba dibangunnya pada setiap busana rancangannya, agar ketika orang melihat busana rancangannya di luar sana, maka mereka akan segera mengenali busana tersebut sebagai karya dari seorang Dian Pelangi.

Masa Kecil dan Sekolah Pilihan Orangtua
Wanita kelahiran Padang ini telah mengenakan hijab sejak masih duduk di bangku SD. Hal ini bahkan menjadi sebuah kewajiban, ketika pada akhirnya dirinya mengenyam pendidikan di sebuah pesantren. Namun hal ini tidak berlangsung lama, sebab godaan untuk melepas hijab sempat terlintas di benaknya.

Dian Pelangi tergoda dan sempat melepas hijabnya ketika ia bersekolah di SMK 1 Pekalongan. Orangtuanya sedih melihat perubahan wanita yang bernama asli Dian Wahyu Utami ini, sehingga akhirnya Dian mengenakan kembali hijab yang sempat dilepasnya tersebut.

Meski tidak begitu suka pada awalnya, Dian Pelangi tetap menuruti keinginan orangtuanya yang menginginkannya masuk dan mengenyam pendidikan di SMK 1 Pekalongan untuk jurusan tata busana.

Ini tentu bukan sebuah proses yang mudah, mengingat terkadang sulit bagi kita untuk menolak keinginan sendiri saat masih berada di usia muda, apalagi terkait dengan masalah sekolah dan berbagai hal penting lainnya. Namun, saran dari orangtuanya ini tentu sangat berguna bagi perkembangan kariernya saat ini, mengingat bidang busana inilah yang akhirnya membawa nama Dian menjadi besar seperti saat ini.

Tidak cukup hanya di situ saja, Dian Pelangi juga memperdalam ilmu tata busananya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Wanita yang pada awalnya selalu merasa minder ini, memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah mode Esmod. Inilah yang kemudian menjadi titik awal kariernya yang cemerlang, sebab di sana Dian bisa menemukan berbagai ide dan juga rancangan yang lebih berjiwa muda dan sesuai dengan pasar busana muslim yang lebih modern.

Bisnis Keluarga dan Perkembangan Karier Dian Pelangi
Menjadi seorang desainer terkenal seperti sekarang ini, bukanlah sebuah hal yang dilakukan Dian tanpa adanya campur tangan keluarga. Pada awalnya, keluarga Dian memang berkecimpung di bidang yang sama.

Orangtuanya memiliki sebuah bisnis busana muslim yang dibuka dalam bentuk butik di wilayah Jakarta dan juga Pekalongan. Dian juga sempat mengurus sendiri butik orangtuanya yang berada di Jakarta, dan di sana ia bisa menyalurkan kemampuannya di bidang desain, sebab saat itu ia baru saja lulus dari sekolah mode Esmod.


Kesempatan ini tentu sangat baik bagi Dian, mengingat Dian memiliki kebebasan untuk berkreasi dan membuat berbagai rancangan busana yang menarik dan sesuai dengan keinginannya. Wanita berdarah campuran Padang dan Pekalongan ini merasa lebih nyaman dan percaya diri untuk menjadi desainer yang sesungguhnya, dengan berbagai karya yang tentunya menarik dan memiliki daya jual yang tinggi.

Perkembangan Karier dan juga Pengelolaan Bisnis yang Lebih Modern
Meski ada awalnya Dian diminta untuk mengembangkan dan mengelola butik orangtuanya, namun wanita muda ini juga ingin memiliki sebuah bisnis sendiri yang tentunya dapat menunjang perkembangan kariernya ke depannya. Dian mulai membuat desain, memasarkan, dan bahkan mengelola bisnisnya secara mandiri dan profesional.

Ini tentu bukan hal yang mudah, mengingat Dian memang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang bisnis. Namun, upayanya untuk terus maju dan berkembang, membuatnya bisa bertahan dan lebih sukses dari sebelumnya. Secara khusus, Dian bahkan mengupayakan untuk menggunakan software modern dalam mengelola keuangan dan juga administrasi bisnisnya, sehingga bisnis tersebut bisa berjalan dengan baik dan efektif.

Secara keseluruhan, Dian memang memiliki kemampuan yang baik di dalam bisnis yang dikelolanya. Pada awal karirnya, wanita yang menikah di usia muda ini bahkan telah melakukan banyak pagelaran busana dan juga mengikuti berbagai kegiatan pameran busana di luar negeri.

Keinginannya untuk bisa dikenal secara luas telah terlaksana dengan baik, beberapa kali Dian melakukan pameran busana kelas dunia dan bahkan ikut berpartisipasi di berbagai event besar kelas dunia dan mewakili Indonesia di sana.

Dian Pelangi adalah sosok pekerja keras yang tidak gampang menyerah, meskipun usianya masih terbilang sangat muda. Jalannya untuk menekuni bisnis yang pada awalnya terlihat kurang cerah, ternyata dapat menjadi sumber kesuksesan masa depannya. Keinginannya untuk sukses di usia muda telah menjadi kenyataan, mengingat saat ini usianya masih berada di pertengahan 20-an.